Go to ...

RSS Feed

Monday, December 9, 2019

Golden Globe


Pada tahun 1969, Knox-Johnston menjadi orang pertama yang berlayar seorang diri mengelilingi dunia tanpa henti.
Dia menyelesaikan rekornya, perjalanan berlayar keliling dunia selama 312 hari pada bulan April tahun itu, hanya tiga bulan sebelum tim Layar lain berlayar untuk perjalanan dengan putaran yang berbeda ke tempat yang tidak diketahui.
Apabila Pendaratan Apollo 11 ke bulan ada NASA di belakangnya dengan teknologi paling canggih saat itu. Pelayaran Knox-Johnston, di sisi lain, sepenuhnya didanai sendiri, dan sepenuhnya analog.
Dia, kadang-kadang, terputus sepenuhnya dari kontak dengan seluruh dunia, dalam perahu layar 32-kaki yang dibangunnya sendiri, bernavigasi oleh bintang dan matahari, menggunakan sekstan dan kronometer.
Di pergelangan tangannya?
Tepat, ada “Rolex Explorer.”
Sebelumnya, ada jam Rolex yang dikenakan oleh Sir Francis Chichester, yang menyelesaikan perjalanan mengelilingi dunia sendiri pada tahun 1967, tetapi dengan satu kali singgah di Australia.
Prestasi Chichester saat itu sangat luar biasa tetapi masih ada satu tantangan lagi yang harus diatasi : “berlayar sendirian, tanpa henti.”
Koran Sunday Times mengumumkan perlombaan, “Golden Globe” untuk melihat siapa yang bisa melakukannya, dan menawarkan hadiah £ 5.000 kepada pemenang.
Sembilan pelaut awalnya mendaftar mengikuti perlombaan. Enam dari mereka kemudian mengundurkan diri atau kehilangan perahu mereka, satu orang menjadi gila dan melompat ke laut, dan satu orang meninggalkan perlombaan untuk melanjutkan berlayar ke Indonesia.Robin_Knox-JohnstonSekarang hanya menyisakan Knox-Johnston untuk menyelesaikan, berlayar kembali ke Inggris untuk menjadi pemenang lomba dan orang pertama yang memenangkan “Everest of sailing” ini.
Sulit untuk melebih-lebihkan kesulitan berlayar keliling dunia sendirian di tahun 1960-an. Dalam banyak hal, pelayaran ini sebenarnya tidak berbeda dari mencoba nya pada 1860-an, atau 1760-an.
Tidak ada GPS atau bahkan navigasi radar, serat karbon, lampu LED atau GoPro.
Knox-Johnston membangun kapal Bermuda-nya, dinamai Suhaili, ketika tinggal di India pada awal 1960-an, menggunakan kayu jati lokal.
Sponsor satu-satunya untuk balapan adalah perusahaan cokelat Inggris dan perusahaan bir, yang keduanya membayarnya dengan produk.
Dia memutuskan untuk memasuki perlombaan ketika dia mendengar bahwa seorang Prancis, Bernard Moitessier, ikutan bersaing, dan ia berpikir itu akan jadi berita besar jika seorang Inggris yang menang.
Knox-Johnston memberi tahu saya bahwa dia memperoleh Rolex Explorer-nya, referensi 6610, di Kuwait pada tahun 1961.
Dia melayani pedagang, berlayar di Samudra Hindia antara Afrika, Timur Tengah, dan India.
Satu pilihan yang logis bagi seorang pria yang membutuhkan sesuatu yang kuat yang bisa ia pakai dan diandalkan selama perjalanan panjang di lautan di daerah tropis.
Jam Explorer ini No-date, simple, dan tahan air.
Pada saat itu, jam Rolex Explorer telah berada di jajaran Rolex selama tujuh tahun. Merupakan evolusi dari, dan terinspirasi oleh, Oyster Perpetual yang dikenakan pada ekspedisi Inggris ke puncak Gunung Everest pada tahun 1953, dan juga jam tangan yang dipakai pelaut Inggris, Chichester, di ekspedisi sebelumnya.
Rolex Explorer, bersama dengan kapal Suhaili dan Knox-Johnston sendiri, selamat dari tantangan luar biasa selama 312 hari di laut yang ganas.
Pada satu titik, di Samudera Selatan, ada gelombang tinggi yang hampir membalik perahu, menjatuhkan radio komunikasi dan membanjiri tangki air tawar dengan air asin, memaksa Knox-Johnston untuk mengumpulkan air hujan untuk diminum selama sisa perjalanan.
Dia tiba di Falmouth sebagai seorang pahlawan yang terkenal, melanjutkan pekerjaan nya menulis buku, dan masih berlayar hingga hari ini, di usia 79.
Melihat Rolex Explorer-nya, Kita dapat melihat bukti kehidupannya yang keras di laut, yang paling terlihat di dial, yang telah memudar hampir seluruhnya dari warna hitam aslinya ke warna yang angka Arabnya hampir menghilang.
Jam ini sekarang menikmati masa pensiun ditempat yang kering dalam tempat penyimpanan Rolex di Jenewa, masih dipasangkan dengan bracelet nya yang asli.
Menariknya, pesaing utama Knox-Johnston di Golden Globe, Bernard Moitessier, juga mengenakan jam Rolex selama perlombaan, 1675 GMT-Master dan itu bisa dilihat di beberapa foto dirinya di atas perahu, Joshua. Keberadaan jam tangan itu saat ini tidak diketahui. Moitessier menjadi lebih filosofis dan mistis selama balapan, akhirnya memilih untuk meninggalkan lomba yang bisa menjadikan nya keliling dunia untuk kedua kalinya.
Tahun 2018 menandai ulang tahun ke 50 dimulainya perlombaan Golden Globe dan, untuk memperingati, versi baru perlombaan sedang diperebutkan, mulai 1 Juli di mulai dari Falmouth.
Sejak balapan 1968-1969, perlombaan berlayar keliling dunia lainnya telah diperebutkan, mulai dari Vendée Globe hingga Whitbread, dan Volvo Ocean Race. Tetapi Golden Globe 2018 adalah unik karena bertujuan untuk menciptakan kembali kondisi yang dihadapi Sir Robin Knox-Johnston ketika dia pindah dari dermaga Falmouth pada tahun 1968. Perahu harus memiliki ukuran dan bentuk yang sama seperti Suhaili, dan pesaing hanya dapat menggunakan teknologi dari era tersebut, dari sekstan dan kronometer ke layar Dacron.
Seperti yang dikatakan Knox-Johnston dalam e-mailnya, dia akan mengarungi Suhaili yang sudah direnovasi ke Falmouth untuk lomba yang dimulai 1 Juli. Tidak jelas apakah ada pesaing yang akan memakai jam Rolex Explorer, tetapi setidaknya jika ada, dia akan tahu jam itu sudah terbukti tangguh.

More Stories From Berita HoW