Go to ...

RSS Feed

Thursday, January 17, 2019

Cerita mengenai Rolex GMT


Musim gugur yang lalu saya berada di Roswell, New Mexico, meliput peluncuran Red Bull Stratos, Felix Baumgartner.
Saat santai menikmati udara gurun yang segar selama salah satu dari banyak penundaan peluncuran, saya melihat jam tangan yang terlihat familier di pergelangan tangan seorang pria yang berdiri di dekat saya.GMTIni adalah jam yang sama yang saya pakai, Rolex GMT-Master tua dengan bingkai merah dan biru “Pepsi” yang ikonik.
Saya mendekat ke arahnya, berusaha untuk sesantai mungkin, dan berkata, “Jam yang bagus,” sambil mengacungkan pergelangan tanganku sendiri dengan arloji yang identik.
Dia tersenyum, berkata, “Terima kasih,” dan kami lalu berbicara tentang jam yang ikonik ini.
Sementara kami berbicara, saya menyadari bahwa meskipun GMT-nya terlihat jauh lebih tua daripada yang punya saya — tampak kusam, pudar, dan hampir tidak melekat sempurna pada bracelet nya — jelas itu yang paling diinginkan dari sebuah jam yang digunakan untuk kondisi apa saja.
Walaupun terlihat orang tersebut bisa membeli jam lain, kemudian dia melepaskan Rolex-nya dan menyerahkannya kepada saya, meminta maaf atas kondisinya dan memberi tahu bahwa istrinya telah mendesaknya selama bertahun-tahun untuk menggantikannya tetapi dia tetap memakai jam tersebut.
Sementara itu, saya memegang, berbicara tentang harganya yang meningkat dari model khusus ini dan bagaimana menggunakan Brasso bisa menghilangkan goresan dari kristal plastik.
Saya bertanya kepadanya sudah berapa lama dia memiliki jam tangan ini, dan dia tersenyum dan mengatakan kepada saya untuk membaliknya.
Pada caseback yang tergores parah saya hampir tidak bisa melihat ukiran. Tertulis “Kinshasa 1974.”
Pria itu, ternyata adalah produser untuk National Geographic (di Roswell untuk membuat film dokumenter), lalu bertanya apakah saya tahu arti kata itu. Saya berpikir sejenak dan kemudian mengingat “Rumble in the Jungle,” yang terkenal, pertandingan tinju Muhammad Ali melawan George Foreman di Kinshasa ibu kota Zaire.
Dia mengatakan kepada saya bahwa dia dan seorang teman pergi ke Afrika pada awal tahun 70-an untuk melakukan beberapa pekerjaan bantuan, pembuatan film, dan pernah sebagai tentara bayaran.
Mereka ada di sana malam itu ketika Ali menyingkirkan Foreman dan mendapatkan kembali gelarnya. dan untuk mengenangnya, dia membeli Rolex ini dan mengukirnya.
Jam ini selalu menemaninya berpetualangan sejak itu dan itu tergambar pada banyak nya scratch di casing jam tersebut.
Saya menyerahkan GMT-Master kembali kepada pemiliknya dan dia memasangkan kembali di pergelangan tangannya dengan nyaman, dia telah melakukannya ribuan kali dengan jam tangan itu. Sebelum kami berpisah, dia bertanya kepada saya apa yang saya pikirkan tentang Rolex GMT-Master II yang baru. Saya mengatakan kepadanya bahwa itu adalah jam yang bagus tetapi jika saya adalah dia, saya tidak akan pernah menyingkirkan aslinya.
Dia berkata, “Ya, saya pikir saya tidak akan melakukannya. Lagipula, yang satu ini masih menunjukan waktu yang baik. ”
From Hodinkee.com – 2013

More Stories From Berita HoW